25 Ramadhan 1445

Bagaimana pun bentuk lukanya.
Bagaimana pun perasaannya yang seakan dunia runtuh.
Bagaimana pun rasa sakit yang dirasakan.
Bagaimana pun goresan yang ada di hatinya.
Kita harus tetap melanjutkan hidup, kan?
Kita harus tetap berjalan ke depan walaupun pelan, kan?
Kita harus tetap untuk berusaha berdiri tegak lagi, kan?
Kita harus percaya bahwa ini bagian dari takdir Nya, kan?
Kita tidak boleh menyalahkan diri sendiri sebagai sebab atas terjadinya ini semua, kan?
Kita harus tetap percaya bahwa Allah ada di pihak kita, kan?
Bahwa ada yang tidak meninggalkan kita selamanya atas keadaan bahagia maupun terpuruknya kita, kan?
Bahwa ada yang tetap memahami kita tanpa meminta belas kasihan, kan?
Bahwa ada yang bersedia mendengarkan cerita kita dikala merasa tidak siapa pun yang mendengarkan, kan?

Tolong genggam hati saya ya, yaa Allah.
Engkau yang paling tahu alur ceritanya.
Engkau yang paling tahu rapuhnya dan retaknya.
Engkau yang paling tahu lukanya dan sakitnya.
Bahkan Engkau yang paling tau cara menyembukannya.

Tolong peluk saya dengan pelukan yang paling hangat, yaa Allah.
Dengan itu saya bisa merasa utuh kembali.
Dengan itu jiwa saya bisa tenang kembali.

Bantu saya ya, yaa Allah.
Saya tidak bisa apa-apa tanpa Engkau.
Bahkan untuk sekedar berdiri, apalagi untuk berjalan lagi.
Saya percaya yaa Allah.
Bahwa Engkau sebaik-baiknya perencana.
.
.
اللهم صل على سيدنا محمد 
.
–ف–

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasa Kehilangan?

Menolak Rasa

Mulai Menerima