Postingan

Sedikit Cerita di Haramain 1

Gambar
Sewaktu di Kota Makkah, entah kenapa setiap kali bertemu dengan orang-orang dari India kesannya selalu tidak mengenakkan. Selagi di area mataf bahkan saat antri di WC 5. Tapi tidak pernah protes, bahkan tidak pernah ada celetukan dalam hati. Sampai suatu ketika antri di tempat wudhu, lumayan terkejut, wah luar biasa, budaya antrinya hampir tidak ada haha. Mungkin karena waktu itu adzan magrib hampir tiba, jadi seolah-olah semuanya pengen buru-buru. Seumur hidup baru kali itu antrian saya diserobot sambil dimarahi pula, padahal mah saya dari tadi antri berdiri di situ, wahai ibu yg cantik wkwkw. Tapi tetap saja, ya sudah lah ya, supaya saya tidak semakin diomelin dengan bahasa yang tidak saya mengerti, saya senyum dan persilakan ibu itu untuk berwudhu lebih dulu. Malam setelah sholat isya, saya berjalan kaki menuju hotel, mengingat kejadian di tempat wudhu sore tadi membuat saya berpikir dan bertanya-tanya dalam hati, ' apa orang-orang India memang seperti itu, ya? '...

25 Ramadhan 1445

Bagaimana pun bentuk lukanya. Bagaimana pun perasaannya yang seakan dunia runtuh. Bagaimana pun rasa sakit yang dirasakan. Bagaimana pun goresan yang ada di hatinya. Kita harus tetap melanjutkan hidup, kan? Kita harus tetap berjalan ke depan walaupun pelan, kan? Kita harus tetap untuk berusaha berdiri tegak lagi, kan? Kita harus percaya bahwa ini bagian dari takdir Nya, kan? Kita tidak boleh menyalahkan diri sendiri sebagai sebab atas terjadinya ini semua, kan? Kita harus tetap percaya bahwa Allah ada di pihak kita, kan? Bahwa ada yang tidak meninggalkan kita selamanya atas keadaan bahagia maupun terpuruknya kita, kan? Bahwa ada yang tetap memahami kita tanpa meminta belas kasihan, kan? Bahwa ada yang bersedia mendengarkan cerita kita dikala merasa tidak siapa pun yang mendengarkan, kan? Tolong genggam hati saya ya, yaa Allah. Engkau yang paling tahu alur ceritanya. Engkau yang paling tahu rapuhnya dan retaknya. Engkau yang paling tahu lukanya dan sakitnya. Bahkan Engkau yang paling ta...

Menolak Rasa

Malam semakin larut Pun langit semakin gelap Namun ada hal yang masih bergejolak Tentang nama yang terlintas sesaat Meminta ada tanpa terjebak Tanpa tersesat rasa dan waktu senyap Juga tanpa sosok yang tersekat Menghantui segala langkah dan jejak Bahkan jika gelap semakin pekat Seolah tidak peduli apa yang terlihat Menulusuri setiap kisah rumit Lagi-lagi meminta hadir walau sesaat Tetapi tidak lagi terjebak Hatinya cukup tangguh tuk bertatap . . Tulisan Juli 2019. –Fha–

Beberapa Kutipan dari Novel Berjudul Bintang Jatuh Karya Silvarani

 Itulah mengapa manusia tidak boleh sombong. Manusia boleh berencana, tetapi Allah yang menentukan. Sombong tidak cuma ditunjukkan oleh harta, pangkat, jabatan, ilmu, atau keimanan yang dimiliki seseorang,  tetapi juga cinta yang ada di hati seseorang itu. Kalau seseorang merasakan kekuatan cintanya begitu besar dan merasa tak ada kekuatan apapun yang dapat menandinginnya, justru disitu Allah akan memberinya ujian. Salah satunya, dengan dipisahkan. Karena itu, selalu libatkan Allah dalam urusan hatimu. Jangan mencintai orang dengan perasaan buta. Semua hal di dunia ini, entah menyenangkan atau menyakitkan, tak mungkin terjadi tanpa seizin-Nya.  "Tiap-tiap makhluk yang hidup di atas bumi itu adalah bersifat fana. Tetapi wajah Tuhanmu yang bersemarak dan gemilang itu tetap kekal adanya." – Surah Arrahman: 26-27.  Dia pernah mengatakan padaku bahwa hati itu ciptaan Allah. Allah jugalah yang menetapkan hati setiap manusia untuk condong pada apapun. Setiap ketetapan dan p...

Kepada Juni [Edisi Tulisan Lama]

Dua hari yang lalu, tiba-tiba saja saya rindu blog saya yang lama, tiba-tiba rindu ingin membaca tulisan-tulisan lama saya ketika masih menggunakan nama Mathar. Dikarenakan lupa password dan memang sudah lama tidak aktif, akhirnya saya langsung membuka situs blog saya yang dulu. Alhamdulillah masih ingat sampai sekarang. Membaca perlahan-lahan mulai dari postingan terbaru. Ada beberapa tulisan yang membuat saya malu sendiri ketika membacanya sekarang, ada beberapa juga yang menurut saya masih indah untuk dibaca walaupun sudah tertinggal beberapa tahun lalu. Salah satunya tulisan yang berjudul Kepada Juni, yang saya posting atau tulis pada bulan juni lima tahun silam. Saya ingin membagikan kembali tulisan itu, karena masih terasa indah saat saya membacanya, walaupun saya lupa latar belakang apa yang menjadi salah satu inspirasi ketika sedang menulis itu. Selamat membaca ^-^ . Selamat pagi, Juni. Aku harap mendapat kabar bahwa kau baik-baik saja. Semoga kau dalam lindungan-Nya selalu. Ka...

Mulai Menerima

Di musim kemarau dimana hujan pun sangat jarang hadir, hawa malam ini terhitung cukup sejuk dibandingkan beberapa malam sebelumnya. Sekarang hampir pukul 11 malam, sebenarnya mata ini sudah ngantuk dan sangat siap untuk istirahat. Tetapi setiap kali memejamkan mata, yang seharusnya pandangan gelap menenangkan, kali ini seperti memutar memori lama yang bisa dibilang menyakitkan. Bukan, bukan momen itu yg menyakitkan. Tetapi karena sosok yang menjadi peran utama dalam momen itu sudah tidak ada lagi. Tidak ada dalam artian sudah menjadi milik sosok yang lainnya. Sehingga jika teringat maka rasanya seperti disayat. Kesedihan ini rasanya sudah cukup. Tidak ingin memberi ruang untuk merasakan kesedihan tentang ini lagi. Sudah cukup karena waktu itu sudah menangis puas berlarut. Hampir setengah tahun mengalihkan pikiran agar tidak mengingat lagi. Menutupi kerapuhan diri agar tidak terlihat menyedihkan. Sayangnya tidak semudah itu. Ada waktu dimana memori diputar tanpa dipinta, tanpa diperinta...

Rasa Kehilangan?

Bagi saya yg awam, bisa jadi ini yang namanya rasa kehilangan. Rasa kehilangan yang benar-benar bikin lupa bagaimana rasanya lapar, bikin lupa bagaimana rasa matcha yang lezat dan lupa bagaimana rasa ayam geprek yang mantap. Rasa yang beneran bikin sakit, sampai merasa tidak sanggup untuk sekedar berdiri sekalipun. Bahkan ketika tidak sengaja mendengar nama dia yang hilang itu, rasanya seperti dihujam tepat di ulu hati. Saat ini sedang pelan-pelan melangkah untuk melanjutkan hidup, dan untuk menyembuhkan jiwa yg lebam. Lebih mencoba untuk mendekatkan diri dengan Allah, karena saya yakin Allah gak mungkin meninggalkan saya. Malam itu tiba-tiba saya ingin merenungi apa yang telah terjadi di kehidupan saya. Berusaha menerima, berusaha untuk berprasangka baik, berusaha untuk mengambil hikmah yg tersirat. Kemudian saya terpikirkan akan sesuatu, bisa jadi kehilangan ini adalah sebab Allah untuk menyelamatkan saya dan dia. Menyelamatkan dari dosa yg berkepanjangan dan hilangnya keberkahan da...